login
Tue 07 of Sep, 2010 [13:25 UTC]

UMY -CASE

Spread your knowledges into the world

Asma Bronchiale

Dibuat oleh: Shendy Andriani Wijayanti,Modifikasi terakhir pada Thu 04 of Mar, 2010 [08:41 UTC]

STATUS PASIEN

    1. IDENTITAS

Nama                        : Ny. S

Umur                        : 62 tahun

Jenis Kelamin          : Perempuan

Agama                     : Islam

Pekerjaan                 : IRT

Status                       : Menikah

Alamat                     : Kenatan, pucung rejo, Muntilan

Tanggal MRS          : 6 Oktober 2009

 

    1. ANAMNESIS

(Autoanamnesis dan alloanamnesis dengan suami pasien tanggal 7 Oktober 2009)  

Keluhan Utama   :  Nafas sesak

Keluhan Tambahan :  Batuk berdahak

Riwayat Penyakit Sekarang :        

       Pasien datang ke RSUD Muntilan pada tanggal 6 Oktober 2009 dengan keluhan nafas sesak dan nafas mengi. Pasien mulai merasakan sesak sejak 3 minggu SMRS tapi tidak berat. Sesak nafas dirasakan pasien terutama jika pasien sedang membersihkan ruangan berdebu,  sedang pilek dan bila sedang banyak pikiran. Pasien merasa sesak berkurang saat siang hari atau jika pasien duduk atau istirahat.

Riwayat Penyakit Dahulu :

    • P asien pernah menderita alergi berupa ruam – ruam kemerahan di kulit
    •  Riwayat asma sejak lama

Riwayat Penyakit Keluarga :

    • Diabetes Melitus, Hipertensi
    • Riwayat Asma dan Alergi disangkal

 

    1. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum   : Tampak sesak

Kesadaran   : Compos mentis

Gizi    : Cukup

Berat Badan   : 52 kg

Tinggi Badan   : 158 cm

Tanda Vital

- Tekanan Darah  : 126 / 78 mmHg

- Nadi    : 123x/menit, regular, isi

                                 cukup

- Pernafasan   : 30 x /menit (jenis abdominotorakal)

- Suhu    : 36 0

Status Generalis

                       Kepala  : Normocephali, distribusi rambut merata,

     Rambut tidak mudah dicabut

Mata  : Pupil bulat isokor, RCL +/+, RCTL +/+, CA -/-

                    SI -/-    

Telinga  : Normotia, sekret -/-, serumen -/-

                    membran timpani intak +/+

Hidung  : septum lurus ditengah, sekret -/-, konka eutrofi,

                    mukosa tidak hiperemis

Mulut  : mulut kering -, lidah kotor -, papil eutrofi,

                    mukosa tidak hiperemis. Gigi – geligi caries -,

Tenggorok : Tonsil T1/T1 tenang, faring hiperemis (+) minimal

Leher  : KGB tidak teraba membesar, struma -,

                    Trakea letak di tengah, JVP tidak meningkat

                        Thorax depan  :   

                       Inspeksi  : Gerak nafas simetris, bentuk dada normal

                       ictus cordis tidak terlihat

                       Palpasi  : Vokal fremitus kanan = kiri

                       ictus cordis tidak teraba

                       Perkusi  : Sonor pada seluruh lapangan paru

                     Batas paru – lambung : sela iga VIII garis

                                                  axillaris anterior kiri

                      Batas paru – hepar : sela iga VI

                                           midklavikularis kanan

                         Peranjakan paru : 1 intercostal space

            Batas atas jantung : sela iga III garis parasternal kiri

            Batas kiri jantung  : sela iga V garis midklavikular kiri

            Batas kanan jantung: sela iga IV medial garis

                                parasternal kanan 

                       Auskultasi  : Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing ekspirasi

                                   +/+ di basal paru

                     murmur -,  gallop – 

                       Thorax belakang :

Inspeksi  : Bentuk simetris, lordosis (-), kifosis(-), skoliosis (-)

                    Gerak nafas simetris saat statis dan dinamis

Palpasi  : Vokal fremitus kanan = kiri

Perkusi  : Batas bawah paru kanan  : thorakal IX

                    Batas bawah paru kiri : thorakal X

                    Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing +/+ di

                  Seluruh lapang paru

Abdomen  :

Inspeksi  : Datar, dilatasi vena -

Palpasi  : supel, turgor cukup, tidak ada nyeri tekan dan

                    Nyeri lepas, hepar dan lien tidak teraba

                    membesar.

Perkusi   : timpani di seluruh lapangan abdomen

Auskultasi : BU (+) normal  

Extremitas : akral hangat, edema lengan -/-, edema tungkai -/-

                    sianosis -/-

Reflex fisiologis : +/+

Reflex patologis : -/-  
 

    1. PERJALANAN PENYAKIT

 

Tgl

Subyektif

Obyektif

Assesment

Planning

6/10/09

Sesak (+), batuk (+), pilek (+)

Wheezing +/+

Asma bronchial dalam serangan

-infus D5% +aminophilin 2A drip

-inj. Hexilon 1A/12jam

-Ventolin I+Flexotide I à nebulizer/8jam

-Interpect 3 dd CI

-Angioten 1 dd I

-Clavamox 3 dd I

 Ro thorax PA

Pemeriksaan Penunjang

 

AL  : 10,8                  Ureum 30          

AE  : 4,90                  Creatinin 1,1

Hb  : 13,8                  SGOT 53

Hct : 44,2                  SGPT 24

Mcv :90,2                 Cholesterol 270

Mch : 28,2                Trigliserid 117

Mchc:31,2                Asam urat 6,3

 

7/10/09

Sesak berkurang, batuk dahak (+), pilek (+), ma mi (+)

KU: sedang, CM

TD : 126/78

HR : 123

 t : 36

Rr : 28x

Cephal : ca -/-, si -/-

Thorax : cor dbn

              pulmo:SD vesikuler +/+

                         Wheezing +/+

Abd. : dbn

           H/L ttb

Ekstr : Akral hangat, nadi kuat

 

Asma Bronchial

Angioten 1dd 1/2

Pemeriksaan Penunjang

 

URIN RUTIN                             FESES RUTIN

Glu     N                                      Sisa makanan (+)

Pro     +2                                     Bakteri  (+)

BLD  -+                                    

KET  250                                             

PH     6,5

 

SEDIMENT

Ep. Squamous : 0-1

Leukosit          : 0-1

Eritrosit           : 0-1

 

8/10/09

Pusing (-), batuk (+) min, mual (+), muntah (-)

KU: sedang, CM

TD : 120/70

HR : 84

 t : 36

Rr : 24x

Cephal : ca -/-, si -/-

Thorax : cor dbn

              pulmo:SD vesikuler +/+

                         Wheezing +/+

Abd. : dbn

           H/L ttb

Ekstr : Akral hangat, nadi kuat

 

Asma Bronchial

Drip Aminophilin 2A stop, ganti oral : Aminophilin tab 2 dd I

Pemeriksaan Penunjang

 

GDS : 155

Thorax PA : Cor dan Pulmo dalam batas normal

 

9/10/09

 

 

 

 

GDS : 149

Pusing (-), batuk (+) min, mual (+), muntah (+) 1x

KU: sedang, CM

TD : 126/78

HR : 123

 t : 36

Cephal : ca -/-, si -/-

Thorax : cor dbn

              pulmo:SD vesikuler +/+

                         Wheezing +/-

Abd. : dbn

           H/L ttb

Ekstr : Akral hangat, nadi kuat

 

Asma Bronchial

Aminophilin 3 dd I

Birotec MDI 3dd puff II

Angioten 1 dd ½

Intrpect 3 dd CI

Clavamox 3 dd I

Methylpred. 3 dd I pc

 

    1. DIAGNOSIS KERJA

Asma bronchial dalam serangan

Dislipidemia

DM

    1. DIAGNOSIS BANDING

PPOK

Bronchitis asmatis

Asma cardial

    1. PENATALAKSANAAN

 bronkodilator (β2 agonis kerja cepat dan ipratropium bromida)

 kortikosteroid sistemik

    1. PEMERIKSAAN ANJURAN

Spirometri

Peak flow meter

Laboratorium darah (terutama eosinofil, IgE total, IgE spesifik), sputum (eosinofil, spiral Curshman, kristal Charcot-Leyden). 

    1. PROGNOSIS

Ad vitam  : bonam

Ad functionam : bonam

            Ad sanationam : bonam

 

 

 

 

A. Definisi Asma

Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan alergen yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam dan atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan.

 

Asma bersifat fluktuatif (hilang timbul) artinya dapat tenang tanpa gejala tidak mengganggu aktifitas tetapi dapat eksaserbasi dengan gejala ringan sampai berat bahkan dapat menimbulkan kematian.

 

B. Patofisiologi dan Mekanisme terjadinya Asma

Gejala asma, yaitu batuk seseak dengan mengi merupakan akibat dari obstruksi bronkus yang didasari oleh inflamasi kronik dan hiperaktivitas bronkus. Hiperaktivitas bronkus merupakan ciri khas asma, besarnya hipereaktivitasbronkus ini dapat diukur secara tidak langsung. Pengukuran ini merupakan parameter objektif untuk menentukan beratnya hiperaktivitas bronkus yang ada pada seseorangpasien. Berbagai cara digunakan untuk mengukur hipereaktivitas bronkus ini, antara lain dengan uji provokasi beban kerja, inhalasi udara dingin, inhalasi antigen maupun inhalasi zat nonspesifik.

Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain alergen, virus, dan iritan yang dapat menginduksi respon inflamasi akut yang terdiri atas reaksi asma dini (early asthma reaction = EAR) dan reaksi asma lambat (late asthma reaction = LAR). Setelah reaksi asma awal dan reaksi asma lambat, proses dapat terus berlanjut menjadi reaksi inflamasi sub-akut atau kronik. Pada keadaan ini terjadi inflamasi di bronkus dan se-kitarnya, berupa infiltrasi sel-sel inflamasi terutama eosinofil dan monosit dalam jumlah besar ke dinding dan lumen bronkus.

Penyempitan saluran napas yang terjadi pada asma merupakan suatu hal yang

kompleks. Hal ini terjadi karena lepasnya mediator dari sel mast yang banyak ditemukan di permukaan mukosa bronkus, lumen jalan napas dan di bawah membran basal. Berbagai faktor pencetus dapat mengaktivasi sal mast. Selain sel mast, sel lainyang juga dapat melepaskan mediator adalah sel makrofag alveolar, eosinofil, sel epitel jalan napas, netrofil, platelet, limfosit dan monosit.

Inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen, makrofag alveolar, nervus vagus dan mungkin juga epitel saluran napas. Peregangan vagal menyebabkan refleks bronkus, sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke dalam submukosa, sehingga memperbesar reaksi yang terjadi. Mediator inflamasi secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan serangan asma, melalui sel efektor sekunder seperti eosinofil, netrofil, platelet dan

limfosit. Sel-sel inflamasi ini juga mengeluarkan mediator yang kuat seperti lekotriens. Tromboksan, PAF dan protein sitotoksis yang memperkuat reaksi asma. Keadaan ini menyebabkan inflamasi yang akhirnya menimbulkan hipereaktivitas bronkus.

            Faktor risiko                                                                   Faktor risiko

    

                                                             Inflamasi

 

     Hipereaktifitas bronkus                                                          Obstruksi BR

                                                               Gejala

 

 

Faktor risiko

Untuk menjadi pasien asma, ada 2 faktor yang berperan yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Ada beberapa proses yang terjadi sebelum pasien menjadi asma:

1. Sensitisasi, yaitu seseorang dengan risiko genetik dan lingkungan apabila terpajan dengan pemicu (inducer/sensitisizer) maka akan timbul sensitisasi pada dirinya.

2. Seseorang yang telah mengalami sensitisasi maka belum tentu menjadi asma. Apabila seseorang yang telah mengalami sensitisasi terpajan dengan pemacu (enhancer) maka terjadi proses inflamasi pada saluran napasnya. Proses inflamasi yang berlangsung lama atau proses inflamasinya berat secara klinis berhubungan dengan hiperreaktivitas bronkus.

3. Setelah mengalami inflamasi maka bila seseorang terpajan oleh pencetus (trigger) maka akan terjadi serangan asma (mengi) Faktor-faktor pemicu antara lain: Alergen dalam ruangan: tungau debu rumah, binatang berbulu (anjing, kucing, tikus), alergen kecoak, jamur, kapang, ragi serta pajanan asap rokok; pemacu: Rinovirus, ozon, pemakaian b2 agonis; sedangkan pencetus: Semua

faktor pemicu dan pemacu ditambah dengan aktivitas fisik, udara dingin, histamin dan metakolin

Secara skematis mekanisme terjadinya asma digambarkan sebagai berikut:

 

                                     Hipereaktifitas bronkus                     Obstruksi

 

Faktor genetic                     Sensitisasi                                   inflamasi                 Gejala asma

 

Faktor lingkungan                Pemicu(inducer)                             Pemacu(enhancer)                           Pencetus(trigger)

 

 

 

Sehubungan dengan asal-usul tersebut, upaya pencegahan asma dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

1. Pencegahan primer

2. Pencegahan sekunder

3. Pencegahan tersier

Pencegahan primer ditujukan untuk mencegah sensitisasi pada bayi dengan risiko asma (orangtua asma), dengan cara :

• Penghindaran asap rokok dan polutan lain selama kehamilan dan masa perkembangan bayi/anak

• Diet hipoalergenik ibu hamil, asalkan / dengan syarat diet tersebut tidak mengganggu asupan janin

• Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan

• Diet hipoalergenik ibu menyusui

Pencegahan sekunder ditujukan untuk mencegah inflamasi pada anak yang telah tersentisisasi dengan cara menghindari pajanan asap rokok, serta allergen dalam ruangan terutama tungau debu rumah.

 

Pencegahan tersier ditujukan untuk mencegah manifestasi asma pada anak yang telah menunjukkan manifestasi penyakit alergi. Sebuah penelitian multi senter yang dikenal dengan nama ETAC Study (early treatment of atopic children) mendapatkan bahwa pemberian Setirizin selama 18 bulan pada anak atopi dengan dermatitis atopi dan IgE spesifik terhadap serbuk rumput (Pollen) dan tungau deburumah menurunkan kejadian asma sebanyak 50%. Perlu ditekankan bahwa pemberian setirizin pada penelitian ini bukan sebagai pengendali asma (controller).

 

C. Faktor Risiko Asma

Secara umum faktor risiko asma dibedakan menjadi 2 kelompok faktor genetik dan

faktor lingkungan.

1. Faktor genetik

a. Hipereaktivitas

b. Atopi/alergi bronkus

c. Faktor yang memodifikasi penyakit genetik

d. Jenis kelamin

e. Ras/etnik

2. Faktor lingkungan

a. Alergen di dalam ruangan (tungau, debu rumah, kucing, alternaria/jamur

dll)

b. Alergen diluar ruangan (alternaria, tepung sari)

c. Makanan (bahan penyedap, pengawet, pewarna makanan, kacang,

makanan laut, susu sapi, telur)

d. Obat-obatan tertentu (misalnya golongan aspirin, NSAID, β bloker dll)

e. Bahan yang mengiritasi (misalnya parfum, household spray, dan lain-lain)

f. Ekpresi emosi berlebih

g. Asap rokok dari perokok aktif dan pasif

h. Polusi udara di luar dan di dalam ruangan

i. Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan

aktifitas tertentu

j. Perubahan cuaca

 

 

III. DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA ASMA

A. Diagnosis

Diagnosis asma yang tepat sangatlah penting, sehingga penyakit ini dapat ditangani dengan semestinya, mengi (wheezing) dan/atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk menegakkan diagnosis.

Secara umum untuk menegakkan diagnosis asma diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang .

1. Anamnesis

Ada beberapa hal yang harus ditanyakan dari pasien asma antara lain:

a Apakah ada batuk yang berulang terutama pada malam menjelang dini hari?

b Apakah pasien mengalami mengi atau dada terasa berat atau batuk setelah terpajan alergen atau polutan?

 

c Apakah pada waktu pasien mengalami selesma (commond cold) merasakan sesak di dada dan selesmanya menjadi berkepanjangan (10 hari atau lebih)?

d Apakah ada mengi atau rasa berat di dada atau batuk setelah melakukan aktifitas atau olah raga?

e Apakah gejala-gejala tersebut di atas berkurang/hilang setelah pemberian obat pelega (bronkodilator)?

f Apakah ada batuk, mengi, sesak di dada jika terjadi perubahan musim/cuaca atau suhu yang ekstrim (tiba-tiba)?

g Apakah ada penyakit alergi lainnya (rinitis, dermatitis atopi, konjunktivitis alergi)?

h Apakah dalam keluarga (kakek/nenek, orang tua, anak, saudara kandung,

saudara sepupu) ada yang menderita asma atau alergi?

2. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik dapat bervariasi dari normal sampai didapatkannya kelainan. Perlu diperhatikan tanda-tanda asma dan penyakit alergi lainnya. Tanda asma yang paling sering ditemukan adalah mengi, namun pada sebagian pasien asma tidak didapatkan mengi diluar serangan. Begitu juga pada asma yang sangat berat berat mengi dapat tidak terdengar (silent chest), biasanya pasien dalam keadaan sianosis dan kesadaran menurun.

Secara umum pasien yang sedang mengalami serangan asma dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut, sesuai derajat serangan :

Inspeksi

− pasien terlihat gelisah,

− sesak (napas cuping hidung, napas cepat, retraksi sela iga, retraksi epigastrium, retraksi suprasternal),

− sianosis

Palpasi

− biasanya tidak ditemukan kelainan

− pada serangan berat dapat terjadi pulsus paradoksus

Perkusi

− biasanya tidak ditemukan kelainan

Auskultasi

− ekspirasi memanjang,

− mengi,

− suara lendir

3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk diagnosis asma:

− Pemeriksaan fungsi/faal paru dengan alat spirometer

− Pemeriksaan arus puncak ekspirasi dengan alat peak flow rate meter

− Uji reversibilitas (dengan bronkodilator)

− Uji provokasi bronkus, untuk menilai ada/tidaknya hipereaktivitas bronkus.

− Uji Alergi (Tes tusuk kulit /skin prick test) untuk menilai ada tidaknya alergi.

− Foto toraks, pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan penyakit selain asma.

 

B. Diagnosis Banding

− Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

− Bronkitis kronik

− Gagal jantung kongestif

− Batuk kronik akibat lain-lain

− Disfungsi larings

− Obstruksi mekanis

− Emboli paru

 

C. Klasifikasi

Berat-ringannya asma ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain gambaran klinik sebelum pengobatan (gejala, eksaserbasi, gejala malam hari, pemberian obat inhalasi β-2 agonis dan uji faal paru) serta obat-obat yang digunakan untuk mengontrol asma (jenis obat, kombinasi obat dan frekuensi pemakaian obat). Tidak ada suatu pemeriksaan tunggal yang dapat menentukan berat-ringannya suatu penyakit. Dengan adanya pemeriksaan klinis termasuk uji faal paru dapat menentukan klasifikasi menurut berat-ringannya asma yang sangat penting dalam penatalaksanaannya. Asma diklasifikasikan atas asma saat tanpa serangan dan asma saat serangan (akut).

 

1. Asma saat tanpa serangan

Pada orang dewasa, asma saat tanpa atau diluar serangan, terdiri dari:

 1)Intermitten;

 2) Persisten ringan;

3) Persisten sedang; dan

 4) Persisten berat

 

Klasifikasi derajat asma berdasarkan gambaran klinis secara umum pada orang

dewasa

DERAJAT ASMA

GEJALA

GEJALA MALAM

FUNGSI PARU

INTERMITEN

Mingguan

  • Gejala < 1x/minggu
  • Tanpa gejala di luar serangan
  • Serangan singkat
  • Fungsi paru asimtomatik dan normal di luar serangan.

< 2 kali sebulan

VEP1 atau APE > 80%

PERSISTEN RINGAN

Mingguan

  • Gejala > 1x/minggu tapi < 1x/hari
  • Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur.

> 2 kali seminggu

VEP1 atau APE > 80% normal

PERSISTEN SEDANG

Harian

  • Gejala harian
  • Menggunakan obat setiap hari
  • Serangan mengganggu aktivitas dan tidur
  • Serangan 2x/minggu, bisa berhari – hari

> sekali seminggu

VEP1 atau APE > 60% tetapi < 80% normal

PERSISTEN BERAT

Kontinu

  • Gejala terus menerus
  • Aktivitas fisik terbatas
  • Sering serangan

Sering

VEP1 atau APE < 80% normal

 

Sumber : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Asma Pedoman & Penatalaksanaan di Indonesia, 2004

 

2. Asma saat serangan

Klasifikasi derajat asma berdasarkan frekuensi serangan dan obat yang digunakan sehari-hari, asma juga dapat dinilai berdasarkan berat-ringannya serangan. Global Initiative for Asthma (GINA) membuat pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda klinis, uji fungsi paru, dan pemeriksaan laboratorium. Derajat serangan menentukan terapi yang akan diterapkan. Klasifikasi tersebut meliputi asma serangan ringan, asma serangan sedang dan asma serangan berat. Perlu dibedakan antara asma (aspek kronik) dengan serangan asma (aspek akut).

Sebagai contoh: seorang pasien asma persisten berat dapat mengalami serangan ringan saja, tetapi ada kemungkinan pada pasien yang tergolong episodik jarang mengalami serangan asma berat, bahkan serangan ancaman henti napas yang dapatmenyebabkan kematian.

Dalam melakukan penilaian berat-ringannya serangan asma, tidak harus lengkap untuk setiap pasien. Penggolongannya harus diartikan sebagai prediksi dalam menangani pasien asma yang datang ke fasilitas kesehatan dengan keterbatasan yangada. Penilaian tingkat serangan yang lebih tinggi harus diberikan jika pasien memberikan respon yang kurang terhadap terapi awal, atau serangan memburukdengan cepat, atau pasien berisiko tinggi  :

 

D. Tatalaksana Pasien Asma

Tatalaksana pasien asma adalah manajemen kasus untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar pasien asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (asma terkontrol).

Tujuan :

− Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma;

− Mencegah eksaserbasi akut;

− Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin;

− Mengupayakan aktivitas normal termasuk exercise;

− Menghindari efek samping obat;

− Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara (airflow limitation)

   ireversibel;

− Mencegah kematian karena asma.

Khusus anak, untuk mempertahankan tumbuh kembang anak sesuai

   potensi genetiknya.

Dalam penatalaksanaan asma perlu adanya hubungan yang baik antara dokter dan pasien sebagai dasar yang kuat dan efektif, hal ini dapat tercipta apabila adanya komunikasi yang terbuka dan selalu bersedia mendengarkan keluhan atau pernyataan pasien, ini merupakan kunci keberhasilan pengobatan.

Pada prinsipnya penatalaksanaan asma diklasifikasikan menjadi:

1) Penatalaksanaan asma akut/saat serangan, dan

2) Penatalaksanaan asma jangka panjang

1. Penatalaksanaan asma akut (saat serangan)

Serangan akut adalah episodik perburukan pada asma yang harus diketahui oleh pasien. Penatalaksanaan asma sebaiknya dilakukan oleh pasien di rumah dan apabila tidak ada perbaikan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan. Penanganan harus cepat dan disesuaikan dengan derajat serangan. Penilaian beratnya serangan berdasarkan riwayat serangan termasuk gejala, pemeriksaan fisik dan sebaiknya pemeriksaan faal paru, untuk selanjutnya diberikan pengobatan yang tepat dan cepat.

Pada serangan asma obat-obat yang digunakan adalah :

• bronkodilator (β2 agonis kerja cepat dan ipratropium bromida)

• kortikosteroid sistemik

Pada serangan ringan obat yang digunakan hanya β2 agonis kerja cepat yang sebaiknya diberikan dalam bentuk inhalasi. Bila tidak memungkinkan dapatdiberikan secara sistemik. Pada dewasa dapat diberikan kombinasi dengan teofilin/aminofilin oral.

Pada keadaan tertentu (seperti ada riwayat serangan berat sebelumnya)kortikosteroid oral (metilprednisolon) dapat diberikan dalam waktu singkat 3- 5 hari. Pada serangan sedang diberikan β2 agonis kerja cepat dan kortikosteroid oral. Pada dewasa dapat ditambahkan ipratropium bromida inhalasi, aminofilin IV (bolus atau drip). Pada anak belum diberikan ipratropium bromida inhalasi maupun aminofilin IV.Bila diperlukan dapat diberikan oksigen dan pemberian cairan IV

Pada serangan berat pasien dirawat dan diberikan oksigen, cairan IV, β2 agoniskerja cepat ipratropium bromida inhalasi, kortikosteroid IV, dan aminofilin IV (bolus atau drip). Apabila β2 agonis kerja cepat tidak tersedia dapat digantikan dengan adrenalin subkutan.

Pada serangan asma yang mengancam jiwa langsung dirujuk ke ICU. Pemberian obat-obat bronkodilator diutamakan dalam bentuk inhalasi menggunakan nebuliser. Bila tidak ada dapat menggunakan IDT (MDI) dengan alat bantu (spacer).

 

2. Penatalaksanaan asma jangka panjang

Penatalaksanaan asma jangka panjang bertujuan untuk mengontrol asma dan mencegah serangan. Pengobatan asma jangka panjang disesuaikan dengan klasifikasi beratnya asma.

Prinsip pengobatan jangka panjang meliputi:

1) Edukasi;

2) Obat asma (pengontrol dan pelega); dan

3) Menjaga kebugaran.

4) Edukasi

Edukasi yang diberikan mencakup :

• Kapan pasien berobat/ mencari pertolongan

• Mengenali gejala serangan asma secara dini

• Mengetahui obat-obat pelega dan pengontrol serta cara dan waktu penggunaannya

• Mengenali dan menghindari faktor pencetus

• Kontrol teratur

Obat asma yang digunakan sebagai pengontrol antara lain :

• Inhalasi kortikosteroid

• β2 agonis kerja panjang

• antileukotrien

• teofilin lepas lambat

 

 Jenis Obat Asma

Jenis obat Golongan

 

Pengontrol

(Antiinflamasi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelega

(Bronkodilator)

 

 

 

 

Steroid inhalasi

 

 

Antileukokotrin

 

Kortikosteroid

sistemik

 

Agonis beta-2

kerjalama

 

 

kombinasi steroid dan

Agonis beta-2

kerjalama

 

 

 

 

Agonis beta-2 kerja

cepat                             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Antikolinergik

 

Metilsantin

 

 

 

Kortikosteroid

sistemik

 

Nama generik

 

 

Flutikason propionat

Budesonide

 

Zafirlukast

 

Metilprednisolon

Prednison

 

Prokaterol

Formoterol

Salmeterol

 

Flutikason + Salmeterol.

 

Budesonide + formoterol

 

 

Salbutamol

 

 

Terbutalin

 

 

 

Prokaterol

 

Fenoterol

 

Ipratropium bromide

 

Teofilin

Aminofilin

Teofilin lepas lambat

 

Metilprednisolon

Prednison

 

Bentuk/kemasan obat

 

IDT

IDT, turbuhaler

 

Oral(tablet)

 

Oral(injeksi)

Oral

 

Oral

Turbuhaler

IDT

 

IDT

 

 

Turbuhaler

 

 

 

Oral, IDT, rotacap

solution

 

Oral, IDT, turbuhaler,

solution, ampul (injeksi)

 

IDT

 

IDT, solution

 

IDT, solution

 

Oral

Oral, injeksi

Oral

 

Oral, inhaler

Oral

 

 

•IDT: Inhalasi dosis terukur = Metered dose inhaler/MDI, dapat digunakan bersama dengan spacer

•Solution: Larutan untuk penggunaan nebulisasi dengan nebuliser

•Oral : Dapat berbentuk sirup, tablet

•Injeksi : Dapat untuk penggunaan subkutan, im dan iv

 

Selain edukasi dan obat-obatan diperlukan juga menjaga kebugaran antara lain dengan melakukan senam asma. Pada dewasa, dengan Senam Asma Indonesia yang teratur, asma terkontrol akan tetap terjaga, sedangkan pada anak dapat menggunakan olahraga lain yang menunjang kebugaran.

 

Dengan melaksanakan ketiga hal diatas diharapkan tercapai tujuan penanganan asma, yaitu asma terkontrol. Berikut adalah ciri-ciri asma terkontrol, terkontrol sebagian, dan tidak terkontrol.

 

Tingkatan Asma Terkontrol

Karakteristik

 

 

Gejala harian

 

 

 

 

 

Pembatasan aktivitas

 

 

 

Gejala

nokturnal/gangguan

tidur (terbangun)

 

Kebutuhan

akan

reliever atau terapi

rescue

 

Fingsi Paru (PEF atau

FEV1*)

 

 

 

 

Eksaserbasi

 

Terkontrol

 

 

Tidak ada (dua kali

atau

kurang

perminggu)

 

 

Tidak ada

 

 

 

Tidak ada

 

 

 

Tidak ada (dua kali

atau kurang dalam

seminggu)

 

 

Normal

 

 

 

 

 

Tidak ada

 

Terkonrol

Sebagian

 

Lebih dari dua

kali seminggu

 

 

 

 

Sewaktu-waktu

dalam seminggu

 

 

Sewaktu – waktu

dalam seminggu

 

 

Lebih dari dua

kali seminggu

 

 

 

< 80% (perkiraan

atau dari kondisi

terbaik

bila

diukur)

 

Sekali atau lebih

dalm setahun**)

 

Tidak

Terkonrol

 

Tiga atau lebih gejala

dalam

kategori Asma

Terkontrol

Sebagian,

muncul sewaktu – waktu

dalam seminggu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekali dalam seminggu***)

 

 

 

Keterangan :

*)Fungsi paru tidak berlaku untuk anak-anak di usia 5 tahun atau di bawah 5 tahun

**)Untuk semua bentuk eksaserbasi sebaiknya dilihat kembali terapinya apkah benar-benar

   adekwat

***)Suatu eksaserbasi mingguan, membuatnya menjadi asma takterkontrol

Sumber : GINA 2006

 

E. Rujukan Kasus Asma

Dokter umum / puskesmas harus merujuk pasien asma dengan kondisi tertentu ke RS

yang memiliki pelayanan spesialistik seperti :

• Serangan berat

• Serangan yang mengancam jiwa

• Pada tatalaksana jangka panjang, apabila dengan kortikosteroid inhalasi dosis rendah (untuk anak sampai dengan 200 mcg/hari, sedangkan dewasa 400 mcg/hari) selama 4 minggu tidak ada perbaikan (tidak terkontrol).

Asma dengan keadaan khusus seperti ibu hamil, hipertensi, diabetes dll

 

 

ALGORITMA

PENATALAKSANAAN SERANGAN ASMA DI RUMAH

 

 

Penilaian berat serangan

Klinis : Gejala (batuk, sesak, mengi, dada terasa berat) yang bertambah

APE , 80% nilai terbaik / prediksi

 

 

Terapi awal

Inhalasi agonis beta-2 kerja singkat

(setiap 20 menit, 3 kali dalam 1 jam), atau Bronkodilator oral

Sumber : PDPI, Asma. Pedoman & Penatalaksanaan Di Indonesia, 2004

 

 

 Algoritma Penatalaksanaan Asma Di Rumah Sakit

 

Penilaian Awal

Riwayat dan pemeriksaan fisik

(auskultasi, otot bantu napas, denyut jantung, frekuensi napas) dan bila mungkin faal paru (APE atau

VEP1, saturasi O2), AGDA dan pemeriksaan lain atas indikasi

 

Serangan Asma Ringan                                                                   Serangan Asma Sedang/Berat                                                           Serangan Asma Mengancam Jiwa

 

 

Pengobatan Awal

 

•Oksigenasi dengan kanul nasal

•Inhalasi agonis beta-2 kerja singkat (nebulisasi), setiap 20 menit dalam satu jam) atau agonis beta-2

injeksi (Terbutalin 0,5 ml subkutan atau Adrenalin 1/1000 0,3 ml subkutan)

•Kortikosteroid sistemik :

- serangan asma berat

- tidak ada respons segera dengan pengobatan bronkodilator

- dalam kortikosterois oral

 

 

Penilaian Ulang setelah 1 jam

Pem.fisis, saturasi O2, dan pemeriksaan lain atas indikasi

 

 

espons baik                                         Respons Tidak Sempurna                                     Respons buruk dalam 1 jam

 

 

 

Respons baik dan stabil

dalam 60 menit                                   Resiko tinggi distress                                                     Resiko tinggi distress

 

Pem.fisi normal                                Pem.fisis : gejala ringan – sedang                      Pem.fisis : berat, gelisah dan kesadaran

menurun

 

 

 

 

 

APE >70% prediksi/nilai

terbaik                                                 APE > 50% terapi < 70%                                               APE < 30%

                                                            Saturasi O2 tidak perbaikan                                     PaCO2 < 45 mmHg

                                                                                                PaCO2 < 60 mmHg

 

 

 

Pulang                                                                                              Dirawat di RS                                                                                          Dirawat di ICU

 

 

• Pengobatan dilanjutkan dengan                                      • Inhalasi agonis beta-2 + anti—                                                       Inhalasi agonis beta-2 + anti kolinergik

 

   inhalasi agonis beta-2                                                        kolinergik

 

 

• Membutuhkan kortikosteroid                                         • Kortikosteroid sistemik                                                                  Kortikosteroid IV

  oral                

 

• Edukasi pasien                                                                • Aminofilin drip                                                                           Pertimbangkan agonis beta-2 injeksi

                                                                                                                                                                                                  SC/IM/IV

 

-Memakai obat yang benar                                               • Terapi Oksigen pertimbangkan kanul                                         Aminofilin drip

 

                                                                                            nasal atau masker venturi

-Ikuti rencana pengobatan                                               • Pantau APE, Sat O2, Nadi,                                                          Mungkin perlu intubasi dan ventilasi   Selanjutnya

 

 

 

 

Perbaikan

Pulang

Bila APE > 60% prediksi / terbaik. Tetap

berikan pengobatan oral atau inhalasi

 

Tidak perbaikan

Dirawat di ICU

Bila tidak perbaikan dalam 6-12 jam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan alergen yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam dan atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan.

Tatalaksana pasien asma adalah manajemen kasus untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar pasien asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (asma terkontrol).

 

 


Komentar

September 2010
< < > >
SunMonTueWedThuFriSat
282930 1 2 3 4
5 6 7 8 91011
12131415161718
19202122232425
2627282930 1 2
Today

User Online

Kita memiliki 0 user sedang online

    Statistik Server

    • Execution time: 0.48s
    • Memory usage: 17.80MB
    • Database queries: 115
    • DB time: 0.218s 45.4%
    • GZIP: Enabled
    • Server load: 7.93