Fraktur Radius dan Ulna
IDENTITAS PASIEN
Nama : Sdr. De
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 33 tahun
Alamat : Kapuk Kamal
Pekerjaan : Swasta
Agama : Islam
Tanggal masuk : 23 – 11 – 2009
Tiba di IGD : Pukul 12.50 WIB
II. ANAMNESA
Autoanamnesa :
1. Keluhan utama : Nyeri pada bagian lengan kanan bawah.
2. Keluhan Tambahan : Bengkak dan gerak lengan kanan bawah tidak bebas karena sakit, nyeri pada pungung belakang, mual (-), Pusing(+).
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke UGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas, karena mabuk, waktu kejadian pasien dalam keadaan setengah sadar karena masih dalam pengaruh alkohol. Waktu kejadian pasien hanya ingat bertabrakan dengan motor sehingga terpental dan jatuh terduduk dan berusaha menahan dengan tangan kanan. Terdapat juga beberapa luka lecet ringan di tubuh pasien. Setelah kejadian pasien mengeluh lengan kiri bawah terasa nyeri dan sulit digerakkan. Untuk kronologis yang lebih lengkap pasien tidak dapat menjelaskan secara rinci karena proses kejadian yang sangat singkat sehingga pasien tidak dapat mengingatnya karena saat itu pasien juga masih berada dalam keadaan mabuk.
4. Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat trauma sebelumnya disangkal
- Riwayat patah tulang sebelumnya disangkal
- Riwayat memiliki penyakit osteoforosis disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga :
- Riwayat penyakit osteoforosis dalam keluarga disangkal oleh pasien
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Umum
Keadaan Umum : tampak kesakitan
Kesadaran : Compos mentis. GCS E3V5M6
Vital Sign : T : 120/70 mmHg R : 20 x/menit
N : 84 x/menit S : Afebris
1. Kepala : Simetris, mesochepal, rambut hitam, tidak ada hematom
2. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor
(+/+) isokor diameter ± 3 mm, reflek cahaya (+/+),Palpebra edema (-/-)
3. Hidung : Deviasi septum (-), discharge (-), epistaksis (-)
4. Telinga : Simetris, discharge (-/-)
5. Mulut : Lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis, Kering (-),
anemis (-)
6. Leher : JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran kelenjar limfe
7. Thorax :
Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di SIC V 2 cm medial linea midclavicularis sinistra, tak kuat angkat
Perkusi : kanan atas : SIC II LPS dextra
kanan bawah : SIC IV LPS dextra
kiri atas : SIC II LMC sinistra
kiri bawah : SIC V LMC sinistra
Auskultasi : reguler, bising (-)
Paru : Inspeksi : Simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi interkostal (-)
Palpasi : Fokal fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler, Ronkhi (-) Wheezing (-)
8. Abdomen :
Inspeksi : Datar, tidak tampak gambaran usus, jejas (-), hematom (-)
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-)
Perkusi : Tympani di seluruh lapangan abdomen
Auskultasi : Bising usus (+) normal.
9. Ekstremitas :
Inferior : gerakan akif pasif dalam batas normal hanya agak sedikit nyeri
B. Status Lokalis
1. Regio antebachii Dextra
Look : Tak tampak luka, tidak terdapat penonjolan abnormal, oedem (+), terdapat deformitas (+) pada sepertiga distal, tidak tampak pemendekan dibandingkan dengan antebrachii sinistra, angulasi (+), tak tampak sianosis pada bagian distal lesi
Feel : Nyeri tekan setempat (+), krepitasi (+), terdapat nyeri ketok sumbu, sensibilitas (+), suhu rabaan hangat, kapiler refil (+)
Move : Gerakan aktif dan pasif terhambat, sakit bila digerakkan, gangguan persarafan tidak ada tampak gerakan terbatas (+), sendi-sendi pada pada bagian distal dapat digerakkan
2. Regio Vertebra servikal
Look : Tidak tampak kelainan, tidak ada deformitas, krepitasi
Feel : Nyeri tekan (-)
Move : Gerak dapat digerakkan
IV. Resume
A. Anamnesis
Pasien datang ke UGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas, karena mabuk, waktu kejadian pasien dalam keadaan setengah sadar karena masih dalam pengaruh alkohol. Waktu kejadian pasien hanya ingat bertabrakan dengan motor sehingga terpental dan jatuh terduduk dan berusaha menahan dengan tangan kanan. Terdapat juga luka lecet ringan di bahu kanan pasien. Setelah kejadian pasien mengeluh lengan kiri bawah terasa nyeri dan sulit digerakkan. Untuk kronologis yang lebih lengkap pasien tidak dapat menjelaskan secara rinci karena proses kejadian yang sangat singkat sehingga pasien tidak dapat mengingatnya karena saat itu pasien juga masih berada dalam keadaan mabuk.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Regio antebachii Dextra
Look : Tak tampak luka, tidak terdapat penonjolan abnormal, oedem (+), terdapat deformitas (+) pada sepertiga distal, tidak tampak pemendekan dibandingkan dengan antebrachii sinistra, angulasi (+), tak tampak sianosis pada bagian distal lesi
Feel : Nyeri tekan setempat (+), krepitasi (+), terdapat nyeri ketok sumbu, sensibilitas (+), suhu rabaan hangat, kapiler refil (+)
Move : Gerakan aktif dan pasif terhambat, sakit bila digerakkan, gangguan persarafan tidak ada tampak gerakan terbatas (+), sendi-sendi pada pada bagian distal dapat digerakkan.
2. Regio Vertebra servikal
Look : Tidak tampak kelainan, tidak ada deformitas, krepitasi
Feel : Nyeri tekan (-)
Move : Gerak dapat digerakkan
V. Deferensial DiAgnosIS
- Fraktur Radius Ulna Dextra, komplit displaced :
· Nyeri yang sangat pada gerakan aktif maupun pasif
· Terdapat pembengkakan
· Deformitas (+)
- Fraktur Radius ulna Dextra, komplit undisplaced.
· Dapat di singkirkan karena pada kasus ini tidak terdapat tanda-tanda pemendekan tulang.
- Fraktur Radius ulna sinistra, inkomplit :
- Dislokasi siku :
· Tidak terdapat gejala : rasa sendi yang keluar.
Akan tetapi terdapat gejala dislokasi yang lain yang berupa :
· trauma nyeri
· Nyeri yang sangat
· Gerak terbatas.
- Coles fraktur :
· Tidak ada tanda dinner fork deformity
- Smith fraktur
- Galeazzi fraktur
- Monteggia fraktur
VI. USULAN PEMERIKSAAN
Foto rontgen regio antebrachii sinistra AP-L
Foto rontgen regio thorak-servical
Hasil : Terdapat fraktur di radius dan ulna Dextra 1/3 distal, komplit displaced tertutup.
Hasil : tidak tampak adanya fraktur dan dislokasi
VII. Diagnosa Klinis
Fraktur Radius Ulna dextra 1/3 distal, komplit displaced, tertutup.
VIII. PENATALAKSANAAN
1. Terapi Konservatif
a. Immobilisasi : Bidai.
b. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips.
2. Terapi Farmakologis
a. Analgetik
b. Roborantia
3. Terapi operatif
a. Reposisi terbuka dan fiksasi interna : ORIF
IX. Prognosis : Dubia ad Bonam.
PEMBAHASAN
FRAKTUR RADIUS ULNA
Pada kasus diatas
v Anatomi dan Insidens
Pada ulna dan radius sangat penting gerakan-gerakan pronasi dan supinasi. Untuk mengatur gerekan ini diperlukan otot-otot supinator, pronator eres dan pronator quadratus. Yang bergwerak supinasi pronasi adalah (rotasi) adalah radius.
v Gejala Klinik
Pada anamnesis didapati nyeri ditempat patah tulang. Hematom dalam jaringan lunak dapat terbentuk, sehingga lengan yang patah akan terlihat lebih besar. Pada pemeriksaan, jelas ditemukan tanda fraktur. Pada pemeriksaan neurologis harus diperiksa n. radialis, karena n. radialis sering mengalami cedera dapat berupa neuropraxia, axonotmesis atau neurotmesis. Kalau terjadi hal ini pada pemeriksaan dijumpai kemampuan dorsofleksi pada pergelangan tangan tidak ada (wrist drop).
v Pemeriksaan Radiologi
Sebelum melakukan pembuatan foto, lengan penderita dilakukan pemasangan bidai terlebih dahulu. Proyeksi foto AP/LAT.
v Penanggulangan
Dilakukan reposisi tertutup. Prinsipnya dengan melakukan traksi kearah distal dan mengembalikan posisi tangan yang sudah berubah akibat rotasi.
Setelah ditentukan kedudukan baru dilakukan immobilisasai dengan gips sirkular diatas siku. Gips dipertahankan selama 6 minggu. Kalu hasil reposisi tertutup tak baik, dilakukan tindakan operasi (open reposisi) dengan pemasanga internal fiksasi dengan plate-screw.
Komplikasi
Malunion : Biasanya terjadi pada fraktur yang kominutiva sedang immobilisasinya longgar, sehingga terjadi angulasi dan rotasi. Untuk memperbaiki perlu dilakukan asteotomi.
· Delayed union : Terutama terjadi pada fraktur terbuka yang diikuti dengan infeksi atau pada fraktur yang communitiva. Hal ini dapat diatasi dengan operasi tandur alih tulang spongiosa.
· Non union : Disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang yang disertai dengan infeksi. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan bone grafting.
· Kekakuan sendi : Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang terlalu lama. Hal ini diatasi dengan fisioterapi.
Komplikasi
Dini
· Compartmen syndrome.
· Komplikasi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi tungkai bawah yang dapat mengancam kelangsungan hidup tungkai bawah. Yang paling sering terjadi yaitu anterior compartment syndrome.
· Mekanisme : Dengan terjadi fraktur tibia terjadi perdarahan intra-kompartment, hal ini akan menyebabkan tekanan intrakompartmen meninggi, menyebabkan aliran balik darah vena terganggu. Hal ini akan menyebabkan oedem. Dengan adanya oedem tekanan intrakompartmen makin meninggi sampai akhirnya sedemikian tinggi sehingga menyumbat arteri di intrakompartmen.
· Gejala : Rasa sakit pada tungkai bawah dan ditemukan paraesthesia, rasa sakit akan bertambah bila jari digerakan secara pasif. Kalau hal ini berlangsung cukup lama dapat terjadi paralyse pada otot-otot ekstensor hallusis longus, ekstensor digitorum longus dan tibial anterior.
· Tekanan intrakompartemen dapat diukur langsung dengan cara whitesides.
· Penanganan : Dalam waktu kurang 12 jam harus dilakukan fasciotomi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Staff Pengajar FKUI,
2. Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong, EGC, 1997.
Komentar