login
Tue 07 of Sep, 2010 [14:24 UTC]

UMY -CASE

Spread your knowledges into the world

KPD

Dibuat oleh: Cindri Wahyuni,Modifikasi terakhir pada Thu 04 of Mar, 2010 [08:41 UTC]

BAB II

KASUS

 

G1P0A0, 21 tahun, hamil 40 minggu, janin I hidup intrauterine, presentasi kepala, puka, inpartu kala I lama, KPD 16 jam, CPD.

 

I. Identitas Pasien.

Nama

:

Ny.  S.

Umur

:

21 tahun.

Agama

:

Islam.

Pekerjaan

:

Ibu rumah tangga.

Alamat

:

Pagoyan 2/IV

No. CM

:

 

Tgl/Jam Masuk

:

WIB

 

II. Anamnesa

A. Keluhan Utama

:

Kenceng-kenceng

B. Keluhan Tambahan

:

Keluar air, lendir darah

C. Riwayat Penyakit Sekarang

:

 

 

Pasien datang dengan surat rujukan bidan GIP0A0 hamil 40 minggu, presentasi belakang kepala, punggung kanan, DJJ + (10-11-10), TFU 31 cm, KK (-), pecah sendiri jam 14.00 (13/04/09), kenceng-kenceng sejak jam 03.00 (14/04/09), portio tebal, dibawa ke RSMS karena Kala I tak maju.

D. Riwayat haid

:

Menarche umur 14 tahun, siklus 28 hari, lama haid 7 hari, teratur.

HPHT :

HPL :

E. Riwayat perkawinan

:

1 kali selama 1 tahun

F. Riwayat ANC

:

Pasien memeriksakan kehamilannya di bidan sebanyak > 4 kali

TT 2 kali 

G. Riwayat obstetri

:

Hamil ini

H. Riwayat KB

:

Tidak ada.

G. Riwayat Penyakit Dahulu

:

- Riwayat hipertensi tidak ada

- Riwayat penyakit jantung tidak ada

- Riwayat penyakit ginjal tidak ada

- Riwayat penyakit DM tidak ada

- Riwayat penyakit asma tidak ada.

H. Riwayat Penyakit Keluarga

:

Tidak ada

I. Riwayat Operasi

:

Tidak ada

       

 

III. Pemeriksaan Fisik.

A. Pemeriksaan Umum

 

Keadaan Umum

:

Baik

 

Kesadaran

:

Compos mentis

 

Tinggi Badan

:

cm

 

Vital Sign

:

T : 120/80                 R : 25 x/menit

N : 80 x/menit           S : 37°C

 

Mata

:

Konjungtiva tidak anemis

Sklera tidak ikterik

 

Thoraks

:

Cor : S1 > S2 regular, tidak ada bising, tidak ada gallop.

 

 

 

Pulmo : Suara dasar vesikuler, tidak ada ronkhi, tidak ada wheezing

 

Abdomen

:

Status Obstetri

 

Genitalia Eksterna

:

Terdapat lendir darah

 

 

Ekstremitas

:

Edema tidak ada.

 

B. Status Obstetri

 

Pemeriksaan Luar :

 

 

 

Inspeksi

:

Perut membuncit tampak membujur

 

Palpasi

:

TFU = 31 cm            TBJ = 3100 gr

 

 

L1

:

Teraba bagian bulat lunak

 

 

L2

:

Teraba bagian tahanan memanjang di perut ibu sebelah kanan

Teraba bagian kecil janin di perut ibu sebelah kiri

 

 

L3

:

Teraba bagian bulat keras, sulit digerakkan

 

 

L4

:

Divergen

 

Auskultasi

:

DJJ (+) 13-12-13

 

 

Pemeriksaan Dalam

:

Pembukaan 7-8 cm

Kulit Ketuban (-)

Kepala turun HII

Oedem portio (+)

 

Ukuran Panggul Dalam

:

Promontorium sulit dinilai

Linea innominata sulit dinilai

Spina Ischiadica menonjol.

Kelengkungan sacrum cukup

Dinding samping pelvis sulit dinilai

Arcus pubis < 90°

Mobilitas os coccygius cukup

Kesan: panggul sempit relative, Osborn Test (+)

 

IV. Pemeriksaan Penunjang.

Hb

:

gr%

Hmt

:

%

AL

:

 

 

 

V.  Diagnosis.

GIP0A0, 21 tahun, umur kehamilan 40 minggu, janin tunggal hidup intrauterin, letak memanjang, presentasi belakang kepala, punggung kanan, kepala turun di HII, inpartu kala I fase aktif lama, ketuban pecah dini 16 jam, cephalopelvic disproportion (CPD)

 

VI. Penatalaksanaan.

1. Ampicilin 1000 mg inj IM

2. Pasang DC

3. Akhiri persalinan dengan SCTP cito atas indikasi CPD

 

Laporan Operasi

 

Tgl Pembedahan

:

14 Januari 2004

Pembedahan di mulai

:

Pukul

Pembedahan selesai

:

Pukul

Diagnosis pra bedah

:

GIP0A0, 21 tahun, umur kehamilan 40 minggu, janin tunggal hidup intrauterin, letak memanjang, presentasi belakang kepala, punggung kanan, kepala turun di HII, inpartu kala I fase aktif lama, ketuban pecah dini 16 jam, cephalopelvic disproportion (CPD)

Diagnosis pasca bedah

:

PIA0 post Sectio Caesaria Tranperitoneal Profunda atas indikasi cephalopelvic disproportion.

Jenis Pembedahan

:

Sectio Caesaria Transperitoneal Profunda

Jenis Anestesi

:

Spinal Anestesi

Laporan Operasi

:

  1. Pasien dibaringkan dalam keadaan telah diberikan Spinal Anestesi.
  2. Desinfektan lapangan operasi dan genitalia eksterna, tutup daerah sekitarnya dengan duk steril, kecuali daerah operasi.
  3. Insisi dinding abdomen pada line mediana antara simfisis dan pusat sepanjang 10 cm.
  4. Otot rectoabdominalis disingkirkan secara tajam/tumpul.
  5. Peritoneum diperlebar dengan tajam/tumpul.
  6. Klem pinggir luka.
  7. Insisi SBR, diperdalam sampai kavum uteri.
  8. Lahirkan bayi BBL; 2850 gram, PB: 47 cm, Lingkar kepala: 33 cm, Lingkar dada: 33 cm, anus (+)
  9. Suntikan methergin 0,2 mg.
  10. Tali pusat dipotong, plasenta lahir manual, kotiledon lengkap, infark (-), hematom (-).
  11. Jahit uterus dengan jelujur terkait.
  12. Eksplorasi perdarahan tidak ada, bersihkan lapangan operasi.
  13. Jahit dinding abdomen lapis demi lapis.
  14. Operasi selesai.

 

 

 

Hasil Observasi Post-SCTP

KU ibu: Baik, compos mentis

Vital sign: TD: 120/80 mmHg

                    N: 80x/menit

                  RR: 26x/menit

                    S: 370C   

 

 

 

 

 

 

 

CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN DI BANGSAL

 

Tgl

S

O

A

P

 

Nyeri luka operasi

KU : Sedang, CM

T : 110/80 mmHg

N : 80 x/mnt

R : 20 x/mnt

S : 36,5° C

Konjungtiva tidak anemis

Thoraks : C/P dbn

Abdomen :

 I   : agak cembung

Pa : TFU I jari di atas pusat

A  : peristaltik (+)

BAK (+)

Flatus (+)

BAB (-)

ASI (-)                  

P1A0 post Sectio Caesaria Tranperitoneal Profunda atas indikasi CPD

- Amoxicillin 3 x     500 mg.

- Methergin 1 x 1 amp

-

 


Nyeri luka operasi

KU : Sedang, CM

T : 110/80 mmHg

N : 80 x/mnt

R : 20 x/mnt

S : 36,7° C

Konjungtiva tidak anemis

Thoraks : C/P dbn

Abdomen :

 I   : agak cembung

Pa : TFU setinggi pusat

A  : peristaltik (+)

BAK (+)

BAB (+)

ASI (+)                  

PIA0 post Sectio Caesaria Tranperitoneal Profunda atas indikasi CPD

- Amoxicillin 3 x     500 mg.

- Sulfas ferosus 1 x 1 tab

- Mobilisasi

 


Nyeri luka operasi

KU : Sedang, CM

T : 110/80 mmHg

N : 80 x/mnt

R : 20 x/mnt

S : 36,7° C

Konjungtiva tidak anemis

Thoraks : C/P dbn

Abdomen :

 I   : agak cembung, luka baik, tidak ada pus

Pa : TFU 1 jari di bawah pusat

A  : peristaltik (+)

PIA0 post Sectio Caesaria Tranperitoneal Profunda atas indikasi CPD

- Amoxicillin 3 x     500 mg.

- Sulfas ferosus 1 x 1 tab

- Mobilisasi.

- DC lepas


Tidak ada

KU : Baik, CM

T : 110/80 mmHg

N : 80 x/mnt

R : 20 x/mnt

S : 37° C

Konjungtiva tidak anemis

Thoraks : C/P dbn

Abdomen :

 I   : agak cembung, luka op baik, tidak ada pus

Pa : TFU 1 jari di bawah pusat

A  : peristaltik (+)

PIA0 post Sectio Caesaria Tranperitoneal Profunda atas indikasi CPD

- Amoxicillin 3 x     500 mg.

- Sulfas ferosus 1 x 1 tab

 


Tidak ada

KU : Baik, CM

T : 100/70 mmHg

N : 84 x/mnt

R : 20 x/mnt

S : 36,9° C

Konjungtiva tidak anemis

Thoraks : C/P dbn

Abdomen :

 I   : agak cembung, luka op baik, tidak ada pus

Pa : TFU 2 jari di bawah pusat

A  : peristaltik (+)

PIVA0 post Sectio Caesaria Tranperitoneal Profunda atas indikasi CPD

- Amoxicillin 3 x     500 mg.

- Sulfas ferosus 1 x 1 tab


Tidak ada

KU :Baik, CM

T : 110/70 mmHg

N : 80 x/mnt

R : 20 x/mnt

S : 37° C

Konjungtiva tidak anemis

Thoraks : C/P dbn

Abdomen :

 I   : agak cembung, luka op baik, tidak ada pus

Pa : TFU 2 jari di bawah pusat

A  : peristaltik (+)

PIVA0 post Sectio Caesaria Tranperitoneal Profunda atas indikasi CPD

- Sulfas ferosus 1 x 1 tab

 


Tidak ada

KU : Baik, CM

T : 110/80 mmHg

N : 80 x/mnt

R : 20 x/mnt

S : 36,7° C

Konjungtiva tidak anemis

Thoraks : C/P dbn

Abdomen :

 I   : agak cembung, luka op baik, kering, tidak ada pus

Pa : TFU 3 jari di bawah pusat

A  : peristaltik (+)

PIVA0 post Sectio Caesaria Tranperitoneal Profunda atas indikasi CPD

- Hacting up

- Boleh pulang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                   

BAB III

PEMBAHASAN

 

 

 

            Pada kasus ini dengan diagnosa GIVPIIIA0, 34 tahun, umur kehamilan 38 minggu, janin tunggal hidup intrauterin, letak memanjang, presentasi dahi, kepala turun di Hodge I, inpartu kala I fase laten, dengan ketuban pecah dini 1 jam.

· GIVPIIIA0

:

Pasien hamil yang keempat kalinya, telah melahirkan tiga kali bayi hidup, tanpa pernah mengalami keguguran.

· Hamil aterm

:

Umur kehamilan dalam rentang antara 37 minggu sampai 42 minggu. Pada pasien ini umur kehamilannya 38 minggu.

· Letak memanjang

:

Letak janin sesuai dengan sumbu tubuh ibu

·Presentasi belakang kepala

:

 

· Hodge II

:

 

· Kala I fase aktif

:

Pembukaan serviks yang bisa disebabkan oleh His atau bagian janin terbawah di pintu atas panggul. Pembukaan serviks mencapai ……

· Ketuban pecah dini

:

Pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda persalinan.

 

            Pada pasien ini permasalahan yang ditemukan adalah penyulit pada presentasi janin, yaitu  presentasi dahi. Pada awal ditemukan presentasi dahi pada janin yang didapat pada pasien ini, keputusan pengelolaan yang dilakukan adalah dengan dengan observasi selama 4 jam. Kemudian dilakukan pengosongan vesica urinaria dan rectum. Tujuan observasi selama 4 jam tersebut diharapkan kepala bayi bisa terjadi fleksi, sehingga berubah menjadi presentasi kepala. Pengosongan vesica urinaria dan rectum bertujuan untuk mengoptimalkan kekuatan his serta memperlancar jalan lahir yang tertekan oleh vesica urinaria dan rectum yang terisi penuh, sehingga diharapkan dengan terjadinya perubahan presentasi tadi, persalinan bisa berlangsung dengan lancar.

Permasalahan yang lain yang ditemukan pada pasien ini adalah adanya ketuban pecah dini. Selaput atau kulit ketuban yang pecah sebelum adanya tanda persalinan bisa mengakibatkan terjadinya infeksi, prolaps tali pusat, serta distosia akibat keringnya air ketuban sebagai pelican jalan lahir dalam proses persalinan pervaginam. Pada pasien ini ketuban pecah hanya berupa rembesan, dan berlangsung kurang dari 6 jam sehingga diperkirakan air ketuban masih cukup  banyak.

            Setelah dilakukan observasi selama ± 3 jam, perubahan presentasi tidak ditemukan, pembukaan hanya bertambah menjadi ± 4-5 cm, tanpa disertai penurunan bagian terbawah dari janin. Dan yang paling menentukan adalah ditemukan adanya tanda-tanda gawat janin, yaitu denyut jantung janin terdengar 96 kali per menit (8-7-9). Maka tindakan yang dilkakukan adalah mengakhiri persalinan dengan sesegera mungkin, yaitu dilakukannya citto Sectio Caesaria.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

September 2010
< < > >
SunMonTueWedThuFriSat
282930 1 2 3 4
5 6 7 8 91011
12131415161718
19202122232425
2627282930 1 2
Today

User Online

Kita memiliki 0 user sedang online

    Statistik Server

    • Execution time: 3.43s
    • Memory usage: 17.44MB
    • Database queries: 63
    • DB time: 0.115s 3.4%
    • GZIP: Enabled
    • Server load: 8.32