PEB
KASUS
I. IDENTITAS
|
Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Tanggal Masuk Jam Masuk No. RM |
: : : : : : : : : |
Ny. PR 38 Tahun Islam SMP Ibu Rumah Tangga Banjaran RT 4 RW 7 Mangunsari Salatiga 24 April 2009 11.15 WIB 137982 |
II. ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Pasien kiriman bidan hamil 39 minggu, inpartu, suspek plasenta previa dengan tekanan darah tinggi.
Riwayat Penyakit Sekarang
Penderita hamil 39 minggu, kiriman bidan dengan keluhan pusing-pusing, pandangan kabur, bengkak pada kedua kaki dan perdarahan lewat jalan lahir. Penderita periksa kehamilan di bidan dan setiap kontrol tekanan darah selalu normal. Pasien juga menyangkal kalau sebelum dan selama hamil pernah kejang. Pada saat ini penderita merasa perut kenceng-kenceng, dan dari jalan lahir keluar darah banyak, gerakan anak dirasakan masih ada 15 menit sebelum masuk RS. Riwayat trauma (-), dipijat (-), coitus (-).
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat hipertensi dan diabetes mellitus disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah asma, dan ibu DM + hipertensi.
Riwayat Haid
|
Menarche Lama Haid Siklus haid Disertai rasa sakit Riwayat gangguan pola menstruasi |
: : : : : |
15 Tahun 7 hari 30 hari tidak tidak ada |
Riwayat Perkawinan
Menikah dua kali syah
I. Usia 16 th memiliki 1 anak
II. Usia 31 th memiliki 1 anak
Riwayat Obstetrik
|
No. |
Keadaan kehamilan, persalinan, keguguran, dan nifas |
Umur sekarang/Tgl. Lahir |
Keadaan anak Berat Lahir |
Tempat Perawatan |
|
1. 2. 3. 4. |
Bayi lahir mati 6 bulan Aterm, partus spontan, nifas baik Aterm, partus spontan, nifas baik Hamil ini : HPHT : 29 Juli 2008 HPL : 5 Mei 2009 |
18 th 3 th |
Hidup 3,3 kg Hidup 3,3 kg - |
Bidan Bidan - |
Riwayat ANC : 4 x ke bidan.
Riwayat KB : suntik (1 bulan) 4 tahun yang lalu
III. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
|
Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign Berat Badan Tinggi Badan Gizi Kulit Kepala Leher Thorak Abdomen Ekstremitas |
: : : : : : : : : : : : |
Sedang Kompos mentis T : 170/110 mmHg S : 36 0 C N : 84 x/menit R : 20 x/menit 67,5 Kg 154 cm cukup turgor dan elastisitas cukup, ujud kelainan kulit tidak ada Mesochepal Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik Hidung : deformitas tidak ada Mulut : bibir tidak sianosis, gigi geligi tidak ada karies dentis JVP tidak meningkat, deformitas tidak ada Inspeksi : simetris, deformitas tidak ada, tidak ada ketinggalan gerak Palpasi : vokal fremitus kanan = kiri, iktus kordis tak teraba Perkusi : sonor Auskultasi : paru : suara dasar vesikuler, ronkhi dan wheezing tidak ada Inspeksi : membuncit, terdapat striae gravidarum Ekstremitas inferior oedem (+/+) |
- Status Obstetrik
Pemeriksaan Luar:
Inspeksi : Perut tampak membuncit membujur
Palpasi : Janin tunggal, letak memanjang, puki, preskep.
Leopold I : Teraba bulat lunak, TFU = 36 cm
Leopold II : Punggung kiri
Leopold III : presentasi kepala
Leopold IV : Konvergen, sudah masuk PAP
His (+) : (+) 3x/ 10’/30’’
Auskultasi : dengan Laenec DJJ (-), dengan CTG DJJ (-)
Sebaiknya dilakukan USG untuk memastikan DJJ Janin dan mencari ada tidaknya tanda-tanda IUFD
Perdarahan per vaginam dengan darah berwarna merah segar
Pemeriksaan Dalam :
- V/U tenang, Dinding vagina licin, Portio tipis, Pembukaan 3-4 Presentasi Kepala, Kepala turun H-I, KK : Melekat merembes
Konsul dokter jaga pukul 14.30
- Observasi KU dan VS
- Infus RL
- Inj. Antibiotik
- Cek lab darah Rutin
Pukul 15. 30
S : Kenceng-kenceng makin sering
O : KU Kesakitan, CM
TD : 170/140
HIS (+) 4x/10’/40’’
DJJ dengan CTG tidak ditemukan
VT Ø 8 cm, portio tipis lunak, kepala turun H2.
Hasil lab HBSAg (-), Hb : 12,2, Protein Uri (++).
DIAGNOSA : G4P3A0, 38 th, Hamil 39 mgg, dengan IUFD, APH dan PEB Inpartu kala I fase aktif,
Pukul 17.10
Lahir bayi spontan laki-laki, mati, maserasi grade I
BB : 3500 gr, PB : 50 cm, LK : 32 cm, LD : 33 cm, Lila : 11 cm, anus (+), perdarahan + 150 cc.
Pukul 17.25
Lahir spontan placenta lengkap, bentuk oval, 25cm x 30 cm x 2cm.
Kotiledon dan selaput utuh, tali pusat 35 cm
Insersi vilamentosa. .
Perdarahan + 100 cc
Perineum intake
DIAGNOSA : Post partus spontan, P4A0/38 th/Hamil 39 mgg/ dengan IUFD, Vasa previa dan PEB,
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Ø Darah Rutin
- Hb : 12,2
-
- KED : 75/95
- Hitung Jenis Leukosit
Eosinofil : 0
Basofil : 0
Batang : 2
Segmen : 60
Limfosit : 35
Monosit : 3
- Gol Darah: B
- SGOT : 64
- SGPT : 55
- GDS : 78,1
- Ureum : 34,8
- Kreatinin : 1,1
POST PARTUS :
KU : Sedang, CM
TD : 130/90
ND : 92x/ menit
t : 36,8 0 C
TFU :
V. PENATALAKSANAAN
Konsul dr. Sp.OG by phone, advis:
- Infus D5% + MgSO4 15 gram, 12 tetes/menit
- Inj. Antibiotik
- Ekstra Nifedipin 10 mg bila TD ≥ 160/110 mmHg
-
TINJAUAN PUSTAKA
Pre-Eklamsi
a. Definisi
Pre-eklamsi adalah penyakit yang ditandai dengan munculnya trias pre-eklamsi, yaitu hipertensi, edema, dan proteinuria, serta terjadi setelah umur kehamilan mencapai 20 minggu sampai dengan waktu segera setelah melahirkan.
b. Patofisiologi
Patologi pre-eklamsi dan eklamsi dapat diterangkan sebagai akibat adanya iskemia regio uteroplasenter, yang akan menyebabkan terjadinya resorbsi substansi trofoblastik ke dalam sirkulasi darah sistemik, sehingga akan menyebabkan pengeluaran renin dan angiotensin. Kemudian terjadi spasme pembuluh darah perifer dengan menimbulkan kompensasi hipertensi. Spasme pembuluh darah dapat menimbulkan kerusakan jaringan dalam bentuk kerusakan endotel pembuluh darah, nekrosis, edema, perubahan pada organ vital, trombosis, dan penimbunan fibrin. Melalui proses perubahan mikroskopis tersebut, akan timbul gejala-gejala klinis pre-eklamsi berat pada ibu hamil.
c. Gejala dan Tanda Klinis
Gejala dan tanda klinis berdasarkan klasifikasi pre-eklamsi adalah:
- Pre-eklamsi ringan (PER):
- Hipertensi dengan tekanan darah £ 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistole dan diastole 30/15 mmHg
- Edema kaki, tangan atau muka, atau peningkatan berat badan 1 kg/minggu
- Proteinuria <5 gr/liter/24 jam atau menunjukkan hasil +1 sampai +2 dalam pemeriksaan protein kualitatif
- Hipertensi dengan tekanan darah £ 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistole dan diastole 30/15 mmHg
- Pre-eklamsi berat (PEB):
a. Hipertensi dengan tekanan darah ³ 160/110 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistole dan diastole > 60/30 mmHg
b. Proteinuria 5 gr/liter/24 jam atau menunjukkan hasil +4 sampai +5 dalam pemeriksaan protein kualitatif
c. Oliguria dengan jumlah urine < 500 cc/24 jam
d. Edema yang masif
e. Edema paru dan dapat disertai dengan sianosis
f. Keluhan subyektif yang lain, misalnya adalah nyeri kepala frontal, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium, mual, dan hiper-refleksia
d. Predisposisi
Faktor predisposisi pre-eklamsi adalah:
1. Nullipara dengan usia belasan
2. Pasien dengan ANC (Ante Natal Care) yang tidak teratur dan nutrisi buruk
3. Riwayat pre-eklamsi dan eklamsi dalam keluarga
4. Riwayat penyakit vaskular sebelumnya, misalnya hipertensi
5. Kehamilan-kehamilan dengan trofoblas yang berlebihan ditambah dengan vili khorion:
a. Kehamilan ganda
b. Mola hidatidosa
c. Diabetes melitus
d. Hidrops fetalis
e. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pre-eklamsi adalah:
1. Meningkatkan jumlah balai pemeriksaan antenatal dan mengusahakan agar semua wanita hamil memeriksakan diri secara teratur sejak hamil muda, dan memerhatikan faktor predisposisi pre-eklamsi
2. Mencari tanda-tanda pre-eklamsi pada setiap pemeriksaan antenatal dan mengobatinya sedini mungkin untuk mencegah pre-eklamsi ringan (PER) menjadi pre-eklamsi berat (PEB) atau PEB menjadi eklamsi
3. Apabila setelah dirawat, tanda pre-eklamsi tidak juga dapat dihilangkan, maka sedapat mungkin mengakhiri kehamilan pada usia kehamilan di atas 37 minggu, sehingga dapat melahirkan bayi hidup atau melahirkan dengan trauma minimal terhadap ibu dan bayi
f. Komplikasi
Komplikasi terberat dari pre-eklamsi adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi di bawah ini biasanya terjadi pada pre-eklamsi berat dan eklamsi, antara lain adalah:
1. Solusio plasenta
Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklamsi
2. Hipofibrinogenemia
3. Hemolisis
Penderita dengan pre-eklamsi berat kadang akan menunjukkan gejala klinis hemolisis yang dikenal dengan ikterus. Belum diketahui pasti apakah hal ini merupakan kerusakan sel-sel hepar atau destruksi sel-sel darah.
4. Perdarahan otak
Merupakan penyebab utama kematian maternal pada penderita eklamsi
5. Kelainan mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara dapat berlangsung selama seminggu. Kadang-kadang dapat terjadi perdarahan pada retina, hal ini merupakan tanda gawat akan terjadi apopleksi serebri
6. Edema paru-paru
Dapat terjadi karena adanya payah jantung
7. Nekrosis hepar
Nekrosis periportal hepar pada pre-eklamsi dan eklamsi merupakan akibat dari vasospasme arteriola sistemik
8. Sindrom HELLP (Haemolysis, Elevated Liver enzymes, and Low Platelet)
9. Kelainan ginjal
Berupa endoteliosis glomerulus, yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotel tubulus ginjal tanpa adanya kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul adalah anuria sampai dengan gagal ginjal
10. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra uterin
11. Komplikasi-komplikasi lainnya
Komplikasi-komplikasi yang lain dapat berupa pneumonia aspirasi dan DIC (Disseminated Intravascular Coagulation), lidah tergigit, trauma dan fraktur karena terjatuh yang didahului dengan kejang-kejang.
g. Penanganan
Penanganan Pre-eklamsi Ringan
1. Rawat Jalan
- Banyak istirahat (berbaring atau tidur miring).
- Diit cukup protein dan vitamin, rendah karbohidrat, lemak dan garam.
- Sedatif ringan : diazepam 3 x 2 mg atau luminal 3 x 30 mg selama 7 hari kalau pasien tidak bisa istirahat.
- Pemeriksaan laboratorium :
- darah dan urin rutin
- jumlah trombosit
- uji faal hati dan ginjal
- Monitor keadaan janin : estriol, urin, amnioskopi, USG dan lainnya.
- Kontrol tiap minggu atau 2x/minggu.
2. Rawat Inap
- Dalam dua minggu rawat jalan tidak menunjukkan perubahan.
- Kenaikan berat badan ≥ 1 kg/minggu
- Timbul salah satu gejala preeklamsia berat
Penanganan Pre-eklamsi Berat
1. Penderita dirawat di ruang yang tenang, tidur miring ke kiri.
2. Diit cukup protein 100 mg/hari, kurangi garam sampai 0,5 gr/hari.
3. Infus dekstrose 5 % yang tiap liternya diselingi infuse RL 60-125 ml/jam sebanyak 500 ml, jumlah cairan maksimum 1500 ml/hari. Jika tekanan osmotik plasma menurun diberikan larutan koloid.
4. Magnesium Sulfat
- Dosis awal : 4 gr larutan 20 % IV dengan kecepatan maksimal 1 gr/menit, yang segera diikuti 8 gr IM larutan 40 % (20 ml) masing-masing 10 ml di pantat kiri dan kanan.
- Dosis pemeliharaan : 4 gr IM setiap 6 jam kemudian
Syarat pemberian magnesium sulfat :
- Refleks patella (+)
- Respirasi ≥ 16 x/menit
- Produksi urine minimal 100 ml/4 jam terakhir
- Tersedia antidotum kalsium glukonat 10 %
- Pemberian magnesium sulfat dihentikan setelah 6 jam pasca persalinan
5. Anti hipertensi
Diberikan bila tekanan sistolik ≥ 180 mmHg atau diastolik ≥ 110 mmHg
- Hidralazin
- 10 mg, 4-6 jam sesuai respon.
- 5 mg IV, tunggu 5 menit, bila tidak ada respon ulangi 5 mg IV sampai dosis total 25 mg.
- Klonidin
- Satu ampul (0,15 mg) dilarutkan dalam 9 ml aqua for injection atau NaCl fisiologi disuntikkan IV sebanyak 5 ml.
- Tunggu 5 menit, bila tekanan darah belum turun, ulangi sampai 4 x dalam 30 menit.
- Bila tekanan darah turun, klonidin diberikan secara IM 3-4 jam sebanyak 0,15 mg.
6. Diuretika
Indikasi à edema umum, edema paru, dan kegagalan jantung kongestif.
Contoh : lasix 1 ampul IV
7. Tindakan Obstetrik
- Konservatif : kehamilan dipertahankan, tunggu sampai persalinan spontan.
- Aktif :
Indikasi bila terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini :
- Umur kehamilan ≥ 37 minggu
- Terdapat gejala impending eklamsia
- Kegagalan terapi konservatif medikamontosa :
Ø 6 jam setelah pengobatan medicinal terjadi kenaikan tekanan darah.
Ø Tidak terdapat perbaikan setelah 48 jam perawatan, dengan kriteria tekanan diastolik ≥ 100 mmHg dan indeks gestosis ≥ 6.
- Terdapat tanda-tanda gawat janin.
- Terdapat tanda IUGR yang kurang dari 10 persentil dari kurva normal
- Terdapat HELLP syndrome.
Cara terminasi kehamilan
Belum dalam persalinan :
- Induksi setelah 30 menit terapi medicinalis.
- Seksio Caesar, bila :
Ø Terdapat kontraindikasi terhadap oksitosin
Ø Setelah 12 jam dalam induksi tidak masuk fase aktif
Ø Primigravida
Sudah dalam persalinan :
- Kala I laten à Seksio Caesar
- Kala I aktif à amniotomi, bila 6 jam amniotomi tidak terdapat pembukaan lengkap, lakukan Seksio Caesar.
- Kala II à ekstraksi vakum atau ekstraksi forceps.
- Pemeriksaan fisik à nulipara, hamil aterm, kepala belum masuk panggul, Osborn positif.
- Pemeriksaan penunjang à pelvimetri radiologik, USG.
VASA PREVIA
Vasa previa merupkan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Hal ini dapat menyebabkan rupture pembuluh darah yang mengancam janin.
Etiologi vasa previa belum jelas.
Diagnosis vasa previa :
Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput ketuban. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioscopi. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan, deselerasi atau bradikard, khususnya bila perdarahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer-Betke serta apusan darah tepi.
Penatalaksanaan:
Sangat tergantung pada status janin. Bila ragu dengan viabilitas janin, tentukan dulu umur kehamilan, ukuran janin, maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan USG dan kardiotokografi. bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan section cesaria segera, namun bila janin sudah meninggal atau imatur, dilakukan persalinan pervaginam.
INTRA UTERIN FETAL DEATH (IUFD)
PATOLOGI
Kalau janin mati dalam kehamilan yang telah lanjut terjadilah perubahan- perubahan sebagai berikut :
1. Rigor mostis (tegang mati)
Berlangsung 2,5 jam setelah mati, kemudian lemas kembali.
2. Stadium maserasi I
Timbul lepuh-lepuh pada kulit, mula-mula terisi cairan jernih tapi kemudian menjadi merah. Stadium ini berlangsung 24 jam setelah mati.
3. Stadium maserasi II
Lepuh-lepuh pecah dan mewarnai air ketuban menjadi merah coklat, stadium ini berlangsung 48 jam setelah anak mati.
4. Stadium maserasi III
Terjadi kira-kira 3 minggu setelah anak mati. Badan janin sangat lemas, hubungan antara tulang-tulang sangat longgar dan terdapat oedem dibawah kulit.
GEJALA
· DJJ tidak terdengar
· Uterus tidak membesar, fundus uteri turun
· Pergerakan anak tidak teraba lagi oleh pemeriksa
· Palpasi anak menjadi tidak jelas
· Reaksi biologis menjadi negatif setelah anak mati kurang lebih 10 hari
· Pada USG dapat dilihat adanya:
- Tulang-tulang tengkorak tutup menutupi (tanda Spalding)
- Tulang punggung janin sangat melengkung (tanda Naujokes)
-
Kalau janin yang mati tertahan 5 minggu atau lebih, kemungkinan Hypofibrinogenemia 25%.
PENANGANAN KHUSUS
Kematian janin dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin, gawat janin atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak diobati.
- Jika pemeriksaan Radiologik tersedia, konfirmasi kematian janin setelah 5 hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang tengkorak, hiperfleksi columna vertebralis, gelembung udara didalam jantung dan edema scalp.
- USG merupakan sarana penunjang diagnostik yang baik untuk memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukkan janin tanpa tanda kehidupan, tidak ada denyut jantung janin, ukuran kepala janin dan cairan ketuban berkurang.
- Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun ekspektatif.
- Bila pilihan penanganan adalah ekspektatif maka tunggu persalinan spontan hingga 2 minggu
- Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan, lakukan penanganan aktif.
- Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai servik yaitu
Ø Jika servik matang,lakukan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin.
Ø Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks dengan prostaglandin atau kateter foley, dengan catatan jangan lakukan amniotomi karena berisiko infeksi
Ø Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternatif terakhir
- Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun dan serviks belum matang, matangkan serviks dengan misoprostol:
Ø Tempatkan mesoprostol 25 mcg dipuncak vagina, dapat diulang sesudah 6 jam
Ø Jika tidak ada respon sesudah 2x25 mcg misoprostol, naikkan dosis menjadi 50mcg setiap 6 jam. Jangan berikan lebih dari 50 mcg setiap kali dan jangan melebihi 4 dosis.
- Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika untuk metritis.
- Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah pecah, waspada koagulopati
- Pemeriksaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya patologi plasenta dan infeksi
PEMBAHASAN
Pada kasus ini, diagnosis awalnya adalah G4P3A0/38 th/Hamil aterm/ dengan IUFD, APH dan PEB, Inpartu
. Diagnosis ini didasarkan pada :
- G4P3A0 : pasien hamil keempat kali, pernah melahirkan bayi 3 kali
- Umur ibu 38 tahun.
- Hamil aterm : usia kehamilan ibu adalah 39 minggu
- IUFD : DJJ (-) dengan CTG dan Laenec
Sebaiknya dilakukan USG untuk memastikan DJJ Janin dan mencari ada tidaknya tanda-tanda IUFD
- In partu : terdapat tanda-tanda persalinan, yaitu his (+) 3x/10’/30’’, pembukaan serviks 3-4, adanya pengeluaran lendir dan darah.
- PEB : didasarkan pada anamnesa didapatkan pusing, pandangan kabur, sedang pada pemeriksaan fisik didapatkan kedua kaki bengkak dan tekanan darah 170/140, yang merupakan salah satu tanda dari PEB. Pemeriksaan urin rutin +2.
Pada kasus ini pada saat pemberian terapi pertama belum dapat diketahu hasil protein urin, dikarenakan kelemahan system pemeriksaan di RS. Namun pada klinis sudah didapat tanda-tanda yang mengarah kearah PEB. Sebaiknya pada pemberian terapi pertama sudah disertakan pemberian antihipertensi yang aman untuk ibu hamil dengan PEB, misalnya Hidralazin, Klonidin, Nifedipin.
Penanganan kasus preeklamsia hanya dilakukan secara simptomatis, karena etiologi preeklamsia dan faktor-faktor yang menyebabkannya belum diketahui secara pasti. pada pasien ini mendapat terapi
- Infus D5% + MgSO4 15 gram, 12 tetes/menit
- Inj. Antibiotik
- Ekstra Nifedipin 10 mg bila TD ≥ 160/110 mmHg
-
Menurut teori penatalaksanaannya adalah memberi terapi terhadap preeklamsia berat dengan MgSO4 dosis awal : 4 gr larutan 20 % IV dengan kecepatan maksimal 1 gr/menit, lalu injeksi MgSO4 8 gram, yang masing-masing dibagi menjadi 4 gram untuk bokong kanan dan 4 gram untuk bokong kiri. Ini dapat diulangi setiap 6 jam dengan dosis 4 gram bila tekanan darah masih tinggi.
Tujuan MgSO4 diberikan untuk mengurangi kepekaan syaraf pusat terhadap hubungan neuromuskular tanpa memengaruhi bagian lain dari sistim syaraf pusat, sehingga dapat mencegah terjadinya kejang. Magnesium sulfat juga dapat menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah, meningkatkan diuresis, dan menambah aliran darah ke uterus. Pada pasien juga dipasang kateter, tujuannya untuk mengetahui diuresis pasien, sehingga keseimbangan cairan dapat diketahui dengan cermat.
Anti hipertensi dapat diberikan pada pasien bila tekanan sistolik ≥ 160 mmHg atau diastolik ≥ 110 mmHg. Obat yang dapat diberikan antara lain Hidralazin, Klonidin, Nifedipin, pada pasien ini diberikan nifedipin 10 mg.
Terminasi kehamilan yang dipilih adalah dengan pervaginam, setelah observasi pembukaan 3-4 hingga pembukaan lengkap tanpa stimulasi selama + 4 jam 15 menit dengan alasan janin IUFD. Lahir bayi spontan laki-laki, mati, maserasi grade I. BB : 3500 gr, PB : 50 cm, LK : 32 cm, LD : 33 cm, Lila : 11 cm, anus (+), perdarahan + 150 cc.
Kemudian Lahir spontan placenta lengkap, bentuk oval, 25cm x 30 cm x 2cm. Kotiledon dan selaput utuh, tali pusat 35 cm, Insersi vilamentosa, Perdarahan + 100 cc. Diagnosa menjadi P4A0, post partum H0, kala IV, IUFD dengan PEB dan vasa previa.
Vasa Previa ditegakkan setelah digali anamnesa perdarahan yang terjadi setelah selaput ketuban pecah karena setelah placenta lahir didapati insersi vilamentosa tali pusar.
IUFD dapat dikarenakan oleh PEB karena pada janin didapat maserasi grade I, sehingga taksiran kematiannya sudah berlangsung sekitar 24-48 jam sebelum partus.
Komentar